Seorang sohib yang kebetulan sehari-hari berprofesi sebagai driver mengingatkan ketika saya dulu belajar mobil pertama kali. “Selama di depan masih ada space 1 meter, tenang aja pak!” Waktu itu saya bertanya gimana ya nanti kalau di tengah jalan raya lagi padat-padatnya nyenggol kendaraan lain. Intinya sahabat ini mengingatkan nggak usah pedulikan mau berapa ratus kendaraan di depan, belakang, kanan, kiri kita yang penting tetap jalan terus. Fokus pada jalur kendaraan kita, bukan sebelah kita.
Menjelang akhir tahun sudah umum yang namanya pada sibuk membuat rencana kerja. Tahun baru selain identik dengan kalender baru juga pada rencana baru, langkah baru. Mulai dari rencana bisnis sampai rencana diri sendiri. Waktu di kantor saya bahas rencana usaha tahun depan ada anggota rapat nyeletuk, “Bahasnya di tempat yang seger-seger atuh pak” Iya sih, semoga Anda pun saat membaca tulisan ini sedang berada di tempat yang segar atau minimal sambil menyeruput minuman segar. Mengapa? Karena saya akan mengangkat topik perihal kompetisi.
Bicara kompetisi kadang membuat telinga berdengung. Semua ingin mengejar menjadi nomor satu, yang terjadi kemudian sering saling intip posisi ‘teman’ sebelah. Kalau tidak ada data keuangannya, cek promosinya apakah lebih unik kreatif atau biasa saja. Masih kurang? Cari infonya ke asosiasi, ke ‘orang dalam’ atau search berita-berita seputar gerak usahanya. Semua tak bisa dibilang tidak penting, karena dengan persaingan kita bisa mengetahui sedang dimana posisi kita. Perbedaan posisi sering juga mengakibatkan perbedaan imbal hasil yang kita terima, kalaulah medali emas dan perak nilai hadiahnya tak jauh beda tapi tetap gengsinya kan beda, tertulis di sejarahnya juga beda.
Sirkuit kompetisi pun terbentuk. Ada yang terbentang harian, pekanan, bulanan, tahunan atau lebih dari itu. Dalam bisnis, satuan tahunan biasanya menjadi ukuran yang paling umum untuk mengevaluasi, seperti halnya kadang kita juga mengukur dari Ramadhan ke Ramadhan untuk mengukur posisi ruhiyah kita. Meningkat atau malah sebaliknya.
Saat rombongan jamaah haji mulai kembali ke tanah air, saya membaca kembali infografis unik dari Selasar.com tentang “Panjangnya Jalan ke Rumah Tuhan”. Dimana rata-rata masa tunggu haji secara nasional adalah 13,19 tahun, yang tercepat adalah 7,5 tahun dipegang oleh Sulawesi Utara sementara propinsi paling lama masa tunggunya adalah Kalimantan Selatan : 19,5 tahun.
Kalau dirunut ke belakang, masa tunggu calon jamaah haji bisa jadi lebih lama lagi, mulai dari mencari dana pendaftaran minimal Rp25 juta sampai akhirnya menunggu tahun keberangkatan. Jika mengantri adalah salah satu ‘cabang kompetisi’ maka naik haji mungkin masuk satu perlombaannya. Ini artinya perjuangannya tak sekedar lintas tahun tapi juga lintas dasawarsa. Wow!
Ada sih cara fast track yang legal misalnya kita tiba-tiba mendapat surat undangan naik haji dari Kerajaan Saudi atau ada kursi yang menjadi kosong karena ada jamaah yang batal berangkat karena meninggal dunia atau udzur tetap lainnya. Atau kita ditunjuk jadi petugas haji, atau hal lain yang saya tidak tahu karena saya juga bukan biro perjalanan haji atau kerja di Kementerian Agama.Fast track yang illegal saya tidak tahu, kalau pun ada sebaiknya jangan dilakukan. Karena ini ibadah, siapa tahu yang mendiskualifikasinya bukan hanya Pemerintah namun Allah SWT.
Kompetisi lain yang ‘unik’ menurut saya adalah kompetisi dulu-duluan antara rencana impian dan realisasi yang Allah hadirkan. Peserta saingannya adalah kita dengan ikhtiar diri kita dan Allah SWT dengan keputusan qadha dan qadar-Nya. Di sebelah kanan kiri ada orang lain yang menjadi tim sorak yang mencoba membantu lari ikhtiar kita lebih cepat, mereka adalah orang tua, anak istri kita, sahabat kita dan orang-orang yang mendoakan segera terkabulnya rencana kita.
Jika kita renungkan sejatinya ikhtiar kita bukanlah faktor 100% yang mendorong sampai finishnya. Lihat saja di televisi, banyak calon haji bisa berangkat ke tanah suci padahal penghasilannya sangat pas-pasan. Tapi semua benar-benar nyata terjadi.
Seorang ustadz bercerita, jika dilihat dari kemampuan finansial mana mungkin beliau bisa menyekolahkan putra-putrinya ke jenjang S1-S3 bahkan sebagiannya di luar negeri. Yang beliau lakukan adalah menyantuni anak yatim sejak usia perkawinan beliau masih belia. Keyakinannnya, kalau kita menyantuni anak yatim pasti Allah juga akan ‘ngopeni’ alias menyantuni anak-anak kita. Kalau hari ini kita marak mengenal asuransi pendidikan, ustadz ini sebenarnya juga sedang mengasuransikan pendidikan masa depan anak-anaknya dengan hari ini ‘membayar premi’ dengan menyantuni anak-anak yatim dan kurang mampu. Hasilnya, banyak taqdir-taqdir Allah turun lebih cepat dan lebih banyak dari yang direncanakannya.
Cerita lain, sahabat lama saya sekolah di kelas menengah. Saat itu ia dikenal pemalu, postur badannya bisa dibilang kecil, sampai suatu hari kami yang waktu itu tinggal di asrama menggelar sidang atas perlakuan seorang teman kami yang lain pada sahabat pemalu ini karena tiap hari ia dipaksa untuk mencuci baju teman kita yang ‘ngebos’ ini. Waktu berlalu kini kami mengenal sahabat pemalu ini sebagai seorang atlit dan instruktur binaraga dengan otot menonjol di sana sini. Hobi lainnya adalah sebagai pembalap motocross yang menambah macho tampilannya. Beberapa kejuaraan binaraga dan balap motor sempat dimenangkannya. Saya yakin ketertindasannya saat kecil menjadi pemacu kompetisi bagi dirinya keluar sebagai pemenang, setidaknya dari rasa minder dan tekanan orang lain. Mungkin doanya sebagai yang terdzalimi, diijabah Ilahi.
Sahabat saya yang lain, kini seorang dokter gigi. Saat masih mahasiswa kami mulai berteman bahkan tinggal satu atap. Kondisi keuangannya tak cukup aman untuk kuliah di fakultas kedokteran gigi yang jelas sangat beda jauh biayanya dengan saya yang kuliah di sosial. Anak muda ini pantang menyerah, pribadinya yang periang menutupi kesulitannya menghadapi hidup. Kemana-mana sepeda onthel menjadi kendaraannya. Satu bekal yang mungkin menjadi jalan kesuksesannya hingga hari ini mengepalai sebuah rumah sakit milik salah satu universitas terbaik negeri ini adalah rasa hormat dan baktinya pada ibundanya. Kebetulan sahabat saya ini juga sudah menjadi yatim sejak ayahnya tiada saat dirinya masih remaja.
Jadi kompetisi adalah keniscayaan dalam kehidupan. Modalnya jelas, dibutuhkan ikhtiar untuk memenangkannya. Yang menarik, ternyata definisi modal tak selalu karena akal dan okol kita, banyak fast track yang Allah hadiahkan karena kegigihan kita, karena budi baik yang mungkin tidak kita sadari akan berbuah di belakangnya. Inilah rekayasa positif untuk menang dengan cara-cara ajaib dan hasil-hasil yang ajaib.
Bagaimana dengan rekayasa kemenangan Anda?